Rabu, 07 Juli 2021

Dialetika Dalam Lima Cerpen Karya Shoim Anwar Sebagai Kritik Pemerintah di Masa Kini

 

    Mungkin akhir-akhir ini kita sering melihat berita-berita yang menyiarkan kabar mengenai kritik tajam terhadap pemerintah. Salah satunya melalui media sosial Instagram dan Twitter. Ada satu berita yang sampai mendapat sorotan tajam dari Bapak Presiden Jokiw secara langsung. Hal tersebut terjadi bukan tanpa alasan, melainkan buntut dari protes yang dilayangkan oleh pengurus BEM UI pada Kamis, 1 Juni 2021. Pasalnya, BEM UI melayangkan kritikan pedas dengan mengunggah dan menyebarluaskan gambar Presiden Jokowi dengan tampilan layaknya seorang raja disertai dengan tulisan “King of Lips” yang berarti Raja Mulut. BEM UI menyayangkan atas sikap kepemimpinan rezim sekarang yang dinali tidak pro rakyat dan melupakan banyak sekali janji-janji sewaktu kampanye. Buntut dari kritik tersebut menuai banyak pro dan kontra. Banyak pendukung dari bapak Jokowi yang menilai sikap atau etika kritik para pengurus BEM UI yang dinilai kurang baik. Sedangkan masyarakat yang berkomentar pro, menilai hal ini merupakan Tindakan benar karena beraspirasi atau demo tidak pernah dihiarukan oleh pihak Istana Pemerintahan.

            Hal ini menjadi sorotan menarik bagi penulis, karena melalui sebuah karya, mereka dapat menarik perhatian baik masyarakat dan juga pemerintahan. Para elit politisi seperti Luhut menyayangkan tindakan dari pengurus BEM UI yang berkomentar dengan tidak beretika. Sedangkan Jokowi menilai bahwa karya tersebut merupakan bentuk kritikan namun tidak adanya sopan dan santun. Berbeda dari kedua orang tersebut, Presiden Jancukers, yakni Sujiwotejo seorang budayawan dan sastrawan, menilai dua orang tersebut memiliki prespektif yang kurang. Sujiwotejo menulis cuitannya di twitter yang mengatakan bahwa komentar dan kritik merupakan dua hal yang berbeda. Sedangkan di dalam kritik tidak perlu dinamakan sopan dan santun. Sujiwotejo juga menghubungkannya dengan cerita pewayangan Dewaruci dalam segi sopan dan santun.

            Nah, dalam kesempatan kali ini penulis ingin menilik kritikan yang sebenarnya telah lama ada. Menggunakan lima cerpen karya Shoim Anwar, penulis ingin mengurai bagaimana makna di dalam karya sastra yang tidak hanya memberikan gagasan, ide, dan cerita sebagai dunia rekaan. Melainkan ingin memungut dan menuai makna yang dapat menjadi kritikan bagi para penguasa di dunia nyata. Jelas hal ini merupakan dua  cara yang berbeda yang dilakukan BEM UI. Karya sastra telah terlebih dahulu menjadi kendaraan yang dapat menghantarkan makna kepada para pembaca dengan eksotis dan estetik. Karna karya sastra tidak hanya berbuah rekaan melainkan katarsis yang dapat memberikan penyucian terhadap diri pembacanya. Luxemburg (1984:56) mengatakan bahwa sastra juga membawa manfaat rohaniah. Sebab, dengan membaca sastra, pembaca memperoleh wawasan yang dalam tentang masalah manusiawi, sosial, maupun intelektual dengan cara yang khusus.

            Bagaiamana dialetika sang pengarang mampu sampai kepada para pembaca?. Hal tersebut dikarenakan dalam proses penciptaan karya sastra, pengarang tidak hanya merekam atas kondisi-kondisi sosial yang ada di dalam kehidupanya, melainkan pengarang juga menuangkan gagasan, ide, dan ideologinya. Hal tersebut menurut Plato dikatakan sebagai mimetik. Mimetik secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yang berarti meniru. Istilah tersebut sering digunakan dalam filsafat seni dan ilmu sastra. Dalam hal ini, mimesis mengandung pengertian seni meniru. Hassanudin (2004:512) mengatakan bahwa konsep ini pertama kali dirumuskan oleh Plato yang melihat dunia seni (khususnya seni Lukis dan pahat) sebagai peniru ide-ide melalui benda-benda yang tampak di dunia ini.

            Maka tidak heran apabila di dalam karya sastra, kita kerap menemui fenomena atau sesuatu hal yang sama persis di dunia. Melalui karya sastra, terutama cerpen yang merupakan cerita pendek dapat kita tuai maknanya untuk kita resapi dan menjadi penyucian di dunai nyata. Sastra tidak hanya indah melainkan bermanfaat seperti konsep Horatius “Dulce et Utile”. Sudah sejak lama, para sastrawan melalui karya sasra memberikan keritikan atas fenomena yang ia tangkap di dunia nyata. Pada gejolak era Angkatan 66 dimana muncul polemik dalam Gelanggang Seniman Merdeka.  Diantaranya berdiri lembaga kebudayaan yang kerapkali berseteru melali karya sastra seperti Lekra, Manifes kebudayaan, dan Lesbumi yang saling berseteru melalui karyanya. Berlanjut pada era 90an di masa revolusi terhadap baru melalui karya sastra berentuk puisi para sastrawan terkenal seperti WS. Rendr dan Wiji Tukul muncul guna memberikan kritikan pedasa bagi para penguasa.

            Kita akan melihat bagaimana dialetika Shoim Anwar di dalam cerpen-cerpennya. Cerpen-cerpen yang akan diulas yakni: “Sorot Mata Syaila”, “Tahi Lalat”, “Sepatu Jinjit Aryanti”, “Bambi dan Perempuan Berselendang Baby Blue”, serta “Jangan ke Istana, Anakku”. Kelima cerpen tersebut setalah dibaca dan diamati lebih dalam maka selaku pembaca kita akan menemukan kesaman. Dimana problematika yang diulas tidak lepas dari unsur politik. Hal ini yang nantinya menjadi dasar dalam menuai dialetika sang pengarang guna menangkap makna yang mampu menjadi kritik terhadap para penguasa.

            Cerpen pertama yakni “Sorot Mata Syaila”, cerpen tersebut berkisahkan pertemuan antara tokoh utama “aku” yang bernama Matalir dan seorang gadis perempuan bernama “Syaila”. Cerpen tersebut berlatar tempat di Bandara Abu Dhabi. Tokoh utama “Aku” dikisahkan sebagai seorang buronan lembaga korusi di Indonesia. Setelah perjalanannya untuk menunaikan ibadah haji, ia bermaksut untuk mengajak dua orang istri dan empat orang anaknya untuk kabur. Latar belakang sebagai seorang buronan Nampak pada kalimat berikut.

            “Alasan melaksanakan ibadah ke Tanah Suci dan Ziarah ke makam nabi-nabi sudah kulalui. Semua itu aku lakukan untuk memperlambat proses hukum sambal mencari trobosan lain, termasuk sengaja tidak hadir saat dipanggil untuk diperiksa penyidik”

            Dari kalimat tersebut kita sudah mengetahaui persoalan yang menyelimuti tokoh utama yakni Matalir. Ia berusaha untuk mangkir dari panggila penyidik dengan alasan menjalan ibadah ke tanah suci. Berikut kalimat lain yang membuktikan sifat buruk Matalir.

            “Dan benar, Ketika berita ramai tersiar bahwa aku dicekal, posisiku sudah di luar negeri. Inilah enaknya punya jaringan khusus di lembaga peradilan. Aku merasa sedikit betuntung kasusku ditangani mereka. Andani yang menangani KPK, mungkin aku sudah meringkuk di sel.”

            Terlihat dari dua kalimat pada cerpen tersebut bahwa Matalir bukan seorang pria biasa melainkan ia pejabat di pemerintahan Indonesia. Apabila kita Tarik garis relevansinya, problematika tersebut sama seperti fenomena kasus Setia Novanto”. Seorang mantan ketua DPR yang terjerat kasus korupsi. Meskipun ia terjerat kasus tersebut oleh KPK, ia dapat pelesiran kemanapun untuk lari dari panggilan penyidik. Tidak kaget, di Indonesia apabila kita menjadi pejabat kita mampu mempermainakn hukum yang ada asalkan kita memiliki harta dan tahta. Bahkan di kasus  Setya Novanto telah memasuki sell yang memiliki sgudang fasilitas mewah ibarat sebuah hotel bintang lima. Hal ini memiluka, tentu kita sebagai bangsa Indonesia merasa dikhianati dengan kasus tersebut. Terlebih lagi kita adalah bangsa yang menjunjung tinggi ideologi Pancasila, bahkan di sila kelima yang berbunyi “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

            Cerpen kedua yakni “Tahi Lalat”. Cerpen yang mengisahkan mengenai penderitaan rakyat yang disebabkan oleh ulah lurahnya. Lurah tersebut kerapkali menjual tanah milik warganya terhadap bos proyek perumahan dengan cara memaksa dan diancam. Kabar tersebut menjadi desas-desus warga sekitar bahkan hingga adanya informasi bahwa di dada istri pak lurah terdapat tahi lalanya. Berikut fragmen yang menggambarkan bagaimana sikap buruk sang lurah dalam cerpen tersebut.

            “Jujur kukatakan, Pak Lurah juga sering menggunakan cara-cara kotor. Selama menjabat, tidak sedikit warga yang kehilangan sawah ladang dan berganti dengan perumahan mewah. Warga yang tinggal di tempat strategis, melalui perangkat desa Pak Bayan, dirayu untuk menjual tanahnya dengan harga yang lumayan mahal. Begitu tanah-tanah yang strategi situ terlepas dari pemiliknya, Pak Lurah semakin gencar membujuk yang lain dengan cara memanggilnya ke kantor kelurahan.”

            Dari fragment tersebut, kita dapat menegtahui bagaimana kelakuan buruk seorang pejabat, seperti halnya seorang Lurah. Segal acara pasti akan dilakukan oleh pejabat asalkan mendapatkan keuntungan pribadi. Tak jarang masyarakat yang diperdaya menjadi termarginalkan. Hal ini juga berada di dunia nyata, bagaimana seorang oknum perangkat desa terkena kasus jeratan korupsi. Seperti kasus yang menjerat perangkat desa di Situbondo yang terkena OTT (Oprasi Tangkap Tangan) atas pungli akta jual beli tanah.  Hal ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah bahwa untuk lebih adil dan slektif dalam memilih para pejabat, terumata dalam menegakan hukum.

            Sekaliber Lurah pun dapat melakukan tindak kejahatan yang dapat merugikan rakyatnya dengan memanfaatkan jabatan dan kewenanganya. Melalui sastra kita mampu melihat realitas yang selama ini terselubung dan hanya mencuat apabila terungnkap. Hal ini karena karya sastra memiliki kases sosial yang secarapotensial memungkinkan pengarang untuk menggulirkan gagasannya kepada khalayak demi perubahan sosial-budaya kea rah yang lebih baik.

            Cerpen selanjutnya yakni “Sepatu Jinjit Aryanti” dan “Bambi dan Perempuan Berselendang Baby Blue”. Dua cerpen tersebut juga mengulas mengenai permasalahan yang tidak luput dari jerat pejabat pemerintahan. Pada cerpen “Sepatu Jinjit Aryanti” menceritakan mengenai tokoh “Aku” dan seorang perempuan yang bernama “Aryanti” sedang berada di Hotel Singapura. Mereka bersembunyi dari kejaran para oknum bayaran pejabat. Hal ini diakrenakan Aryanti merupakan kunci dari kasus pembunuhan seorang pria yang merupakan petinggi pemerintahan. Sedangkan pada cerpen Bambi dan Perempuan berselendang Baby Bleu” menceritaka seorang perempuan yang menagih janji seorang hakim pria bernama Bambi. Cerpen berjudul Bambi dan perempuan Berselendang Baby Blue menggunakan tokoh utama seorang perempuan bernama Anik. Konflik terjadi Ketika tokoh utama “Anik” menemui dan menahan “Bambi” di depan toilet pria. Tokoh Anik bermaksud untuk menagih janji Bambi sewaktu dipersidangan ia dimenangkan. Namun Bambi selaku hakim tunggal dipanggadilan justru berkhianat. Anik mamasuki problematika hukum karena adanya iming-iming menang oleh Bambi.

            Dalam dua cerpen tersebut, meberikan kita gambaran bagaimana seorang pejabat pemerintahan dapat memberikan wewenangnya demi keuntungan pribadiya Dalam fragmen Cerpen Sepatu Jinjit Aryanti berikut kita dapat mengetahui bahwa pejabat juga memiliki oknum pengamanan yang dapat melindunginya dan membersihakn nama baiknya meskipun dengan cara paling kotor yakni membunuh.

            “Aku mendapat perintah untuk “menyembunyikan” Aryanti dengan berbagai cara karena dia adalah saksi mahkota terkait kasus pembunuhan orang penting yang direncanakan. Sengaja kata itu digunakan dan aku harus menerjemahkannya sendiri. Ambigum tapi sudah menjadi kelaziman agar pemberi perintah dapat berkelit Ketika terjadi hal yang tidak dikehendaki”.

            Situasi tersebut sedikit mengingatkan menganai kasus Novel Baswedan yang merupakan anggota dari KPK. Ia mendapatkan terror dengan di siram air keras di wajahnya. Niat pelaku penyiraman tersebut yakni untuk melumpuhkan korban, justru Novel Baswedan hanya terkena di bagian matanya saja. Namun hal yang paling mencenangkan adalah pelaku penyiraman seakan dibuat sekenario, dan motif pelaku dalam penyiraman juga tidak masuk akal hanya beralasan dendam pribadi. Banyak media yang menyorot kasus tersebut termasuk sampai menyelediki sebagaimana keahlian para pelaku yang tidak terkam kamera dan dapat menghafal rute perumahan tempat kediaman Novel Basewedan.

            Sedangkan dalam cerpen Bambi dan Perempuan Berselendang Baby Blu” mmengisyarkatan mengenai permainan kotor di lembaga peradilan hukum Sudah bukan hal yang tabuh bahwa di dalam proses peradilan hukum siapa yang lebih berkuasa dan kaya pasti akan menang. Sehingga muncul selogan bahwa “hukum tumpul ke atas dan tajam di bawah” yang memiliki bawha hukum tumpul bagi para penguasa tapi sangat tajam dan menjerat bagi rakyat.

            Pada cerpen “Jangan Ke Istana, Anakku” merupakan cerpen yang memiliki sindirian keras terhadap sebuah istana penguasa. Hal ini di manifestasikan dari istana para pejabat. Dalam cerpen tersebut, menceritakan bagaimana kesewenang-wenangan penguasa dalam melakukan tindakan termasuk dalam mengambil para gadis cantik untuk menjadi tumbal bagi Nyi Blorong sewaktu malam Rabu Kliwon. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa para penguasa yang berada di istana memiliki kesewang-wenangan dalam menciptakan aturan.

            Apabila dihubungkan dengan kondisi sekrang, interpretasi saya tertuju pada fenomena covid 19 yang merajarela di dunia. Mengenai bagaimana pemerintah memberikan kebijakan yang tumpeng tindih dalam menangani covid-19. Fenomena terbaru yang sedang trending di tahun 2021 yakni mengenai kebijakan pemerintah yang memberlakukan PPKM mulai pukul 17.00 sedangkan TKA dari Cina diperbolehkan dating ke Indonesia dan bandara-bandarapun dibuka.

            Pada akhirnya, melalui karya sastra kita dapat menuai makna yang terkandung selain untuk menjadi sebuah perenungan dalam menyikapi gejala yag hadir di kehidupan nyata, karya sastra mampu memberikan kritikan sosial bagi pemerintah atau oknum pejabat. Kritik sosial dalam karya sastra adalah salah satu bentuk komunikasi dalam masyarakat yang bertujuan sebagai control terhadap jalannya suatu system sosial atau proses bermasyarakat. Sehingga sastra dipandang paling ampuh dalam melakukan kritik sosial terhadap kekuasaan dan sebuah tatanan yang menyimpan dari kelaziman.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anwar Shoim. 2017 Sejarah Sastra Indonesia. Sidoarjo. Media Ilmu

Hasanuddin, W.s. (Ed). 2004. Ensiklopedia Kesusastraan. Bandung. Titian Ilmu

Luxermburg, J.V, Mieke. 1984. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta. Gramedia

Teeuw. A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Bandung. PT. Dunia Pustaka Jaya.

Minggu, 27 Juni 2021

Berselancar dalam Video Clip Mama Papa Larang karya Judika oleh Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia

 

Jika biasanya kita membahas mengenai karya tulis, kini kita akan mengulas sebuah video lipsinc yang dibuat oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Angkatan 2014. Video Clip ini memiliki judul Mama Papa Larang yang dinyanyikan oleh Judika. Judika adalah seorang penyanyi yang memiliki karir sebagai penyanyi terkenal dimana ia memiliki karir yang melejit pada saat itu setelah ia berhasil mengikuti ajang Indonesian Idol walaupun ia tidak menyandang gelar juara. Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas lagu Mama Papa Larang yang di parody kan oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Angkatan 2014.

Lagu ini memiliki alur cerita dimana penulis lagu membuat sebuah tokoh lelaki yang berusaha keras dalam mendapatkan restu dari orang tua perempuannya. Lelaki itu berusaha walaupun orang tua dari kekasihnya tidak merestui hubungan mereka. Walaupun orang tua dari perempuan itu melarang hubungan itu, sang lelaki tetap mencintai perempuan itu. Lirik lagu Mama Papa Larang ini merpakan kisah nyata Judika dengan sang istri.

Mulai awal hingga akhir video clip yang di perankan oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia ini sudah cukup baik mulai dari lipsinc nya sampai pemeranan tokohnya. Tetapi ada satu adegan yang kurang menurut saya, yaitu penjiwaan pada adegan Ibu yang menerima telepon terlalu kelihatan tidak nyata atau terlihat acting.

Mungkin itu saja yang dapat kita bahas pada kesempatan pada kali ini. Selebihnya sudah bagus dan mengesankan karena sudah kreatif dalam membuat video clip lipsinc lagu Judika Mama Papa Larang.

Rabu, 16 Juni 2021

Menyelami Puisi "Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia KaryaTuafil Ismail

 

    Sebuah karya sastra tidak hanya dijadikan sebagai sarana hiburan namun juga dijadikan sebagai perantara seseorang dalam mengkritik sesuatu. Puisi dikenal sebagai imajinasi yang ingin diungkapkan oleh penulis yang dikemas menjadi suatu hal yang indah dengan gaya Bahasa yang beragam. Pada kesempatan kali ini penulis ingin membahas mengenai salah satu puisi yang ditulis oleh Taufiq Ismail dalam antologi ouisi dengan judul “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”. Nama Taufiq Ismail telah dikenal oleh para penggemar sastra.

    Di dalam puisi “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” Taufiq Ismail memberikan banyak pesan yang terkait akan kritik mengenai kehidupan social di Indonesia. Permasalahan yang dipaparkan oleh Taufiq Ismail yaitu birokrasi, kecurangan bisnis, jual beli hukum dan kecurangan politik. Di dalam puisi tersebut, taufiq seakan akan ingin menunjukkan kesedihannya kemirisannya negeri Indonesia tidak hanya miris akan tingkat masyarakat kecil, namun juga pada masyarakat atas. Bahasa yang digunakan oleh Taufiq Ismail adalah Bahasa yang lugas dan terkesan menyindir.

    Dapat kita lihat pada puisi tersebut, Taufiq Ismail ingin meningkatkan kepada kita untuk menjadi lebih baik lagi agar bangs akita berubah menjadi bangsa yang berkualitas. Sudah terlihat pada judul puisinya, bahwasannya penulis merasa malu akan bangsa yang memiliki keburukan dalam bisnis politik bahkan birokrasi. Namun, Taufiq juga sempat menggambarkan kebanggaannya terhadap bangsa Indonesia di awal Indonesia merdeka pada bab I.

I

Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga

Ke Wisconsin aku dapat beasiswa

Sembilan belas lima enam itulah tahunnya

Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia

 

Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia

Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda

Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,

Whitefish Bay kampung asalnya

Kagum dia pada revolusi Indonesia

 

 

Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya

Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama

Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya

Dadaku busung jadi anak Indonesia

 

 

Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy

Dan mendapat Ph.D. dari Rice University

Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army

Dulu dadaku tegap bila aku berdiri

Mengapa sering benar aku merunduk kini

 

    Pada Bab berikutnya, Taufiq mulai menunjukkan kekecewaannya dan rasa malunya terhadap bangsa Indonesia. Ia mengatakan bahwasannya Indonesia memiliki hukum yang tak beraturan. Kemudian pada bab ke III Taufiq Ismail menuliskan berbagai perilaku yang tidak dapat dibenarkan. Bebrapa perilakunya diceritakan bahwa tidak ada kesempatan bagi masyarakat dalam menyuarakan aspirasinya baik dari para ulama, wartawan yang menyampaiakn berita bahkan hingga keputusan di pengadilan. Dari beberapa perilaku dan kejadian yang digambarkan pada puisi dalam bait III adalah tidak sedikit fakta memalukan dari bangsa kita.

II

Langit langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,

Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza

Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia

Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata

Dan kubenamkan topi baret di kepala

Malu aku jadi orang Indonesia.

 

III

Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor

satu,

 

Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang

curang susah dicari tandingan,

 

Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu

dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek secara

hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,

 

Di negeriku komisi pembelian alat-alat besar, alat-alat ringan,

senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan

peuyeum dipotong birokrasi lebih separuh masuk

kantung jas safari,

 

Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,

anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,

menteri, jenderal, sekjen, dan dirjen sejati, agar

orangtua mereka bersenang hati,

 

Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum sangat-

sangat-sangat-sangat-sangat jelas penipuan besar-

besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,

 

Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan

sandiwara yang opininya bersilang tak habis dan tak

putus dilarang-larang,

 

Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata supaya berdiri pusat

belanja modal raksasa,

 

 

Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,

ciumlah harum aroma mereka punya jenazah, sekarang

saja sementara mereka kalah, kelak perencana dan

pembunuh itu di dasar neraka oleh satpam akhirat akan

diinjak dan dilunyah lumat-lumat,

 

Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia dan tidak

rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli, kabarnya

dengan sepotong SK suatu hari akan masuk Bursa Efek

Jakarta secara resmi,

 

Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan, lima

belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,

 

Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,

fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,

 

Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat jadi pertunjukan teror

penonton antarkota cuma karena sebagian sangat kecil

bangsa kita tak pernah bersedia menerima skor

pertandingan yang disetujui bersama,

 

Di negeriku rupanya sudah diputuskan kita tak terlibat Piala

Dunia demi keamanan antarbangsa, lagi pula Piala

Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil karena Cina,

India, Rusia dan kita tak turut serta, sehingga cukuplah

Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,

 

 

Di negeriku ada pembunuhan, penculikan dan penyiksaan rakyat

terang-terangan di Aceh, Tanjung Priuk, Lampung, Haur

Koneng, Nipah, Santa Cruz, Irian dan Banyuwangi, ada pula

pembantahan terang-terangan yang merupakan dusta

terang-terangan di bawah cahaya surya terang-terangan,

dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai

saksi terang-terangan,

 

Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada, tapi dalam

kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang menyelam di

tumpukan jerami selepas menuai padi.                          

 

    Perasaan malu terus menerus disampaiakn penyair yang kemudian dipertegas pada bab IV dimana tokoh “aku” terlalu malu untuk menunjukan wajahnya pada lingkungan sekitar bahwa ia adalah seorang yang meiliki keturunan Indonesia.

IV

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,

Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza

Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia

Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata

Dan kubenamkan topi baret di kepala

Malu aku jadi orang Indonesia.

 

1998

Sabtu, 05 Juni 2021

Membahas Secuil mengenai "Setan Banteng" karya Seno Gumira A.

 

Seno Gumira Ajidarma. Nama ini dikenal sebagai seorang penulisa dari beberapa cerita pendek yang telah banyak dikenal Sebagian masyarakat. Ada beberapa karya nya yaitu Atas Nama Malam, Wisanggeni-Sang Buronan, Sepotong Senja untuk Pacarku, Biola Tak Berdawai, Kitab Omong Kosong, Dilarang menyanyi di Kamar Mandi juga Negeri Senja.

Namun Kali ini, kita akan membahas satu karya dari berbagai karya seorang Seno Gumira Adjidarma dengan judul “Setan Banteng”. Melalui judul saja, kita dapat merasakan bahwa judul ini membuat pembaca sekalian merasa penasaran, karena kata Setan dan Banteng ini merupakan kata yang berbeda, sehingga menjadikan pembaca berpikir, apakah ada kaitan diantara dua objek tersebut.

Cerpen tersebut di dalamnya diceritakan mengenai segerombolan anak yang sedang melakukan sebuah permainan pemanggilan makhluk tak kasat mata atau biasa disebut dengan makhluk ghoib yang memiliki watak seperti banteng. Pada permainan itu, mereka mendiskusikan sesuatu yaitu mengenai siapa yang akan menjadi mediator. Ada satu anak yang takut sehingga ia memilih mundur tidak berani melangkahkan kakinya. Pada akhirnya ada seorang anak yang memberanikan diri untuk menjadi mediator. Pemimpin gerombolan itu menyuruh si anak maju dengan menyiapkan beberapa keperluan untuk permainan tersebut. Ritual-ritual dilakukan dan kemudian setan banteng berhasil dipanggil dengan merasuki tubuh anak tadi.

Matanya memerah dengan postur tubuh yang bungkuk lalu salah satu kakinya menyepak ke belakang. Setelah mengetahui temannya berhasil dirasuki setan banteng, semua anak yang berada disana berlali menghindari serangan banteng yang sedang marah. Permainan itu tidak membuat anak-anak lain takut, justru mereka merasa terhibur tanpa meikirkan kondisi anak yang dirasuki. Setelah puas dengan hal tersebut, anak anak tadi yakin bahwa permainan itu nyata adanya.

Tak lama gurunya dating dan mengetahui permainan yang tidak baik itu, kemudian guru memukul punggung anak yang kerasukan tadi. Sang anak yang menjadi mediator ini tidak mengetahui apa yang terjadi selama ia dirasuki.

Setelah membaca cerpen ini, saya dapat memahami bahwa sosok setan banteng adalah sebagai gambaran emosi yang meluap luap. Seseorang, Ketika ia merasa emosi maka dia tidak akan dapat mengontrol dirinya seperti halnya banteng yang sedang mengamuk. Nasihat atau ucapan dari orang lain tidak akan masuk kedalam telinganya saat sedang emosi

Sabtu, 15 Mei 2021

Mendalami Puisi: Idul Fitri Karya Sutardji Calzoum Bachri

 

Mengisi kekosongan pada saat meyambut hari raya, mari kita mendalami puisi karya Sutardji Calzoum Bachri dengan judul Idul Fitri. Dilihat dari judulnya sudah pasti puisi ini tentang kemeriahan hari raya idul fitri, namun dapat juga digambarkan sebagai kesucian kefitrahan pada hari yang meriah dimana orang-orang bermaaf-maafan.

Saat kita membaca seluruh puisi tersebut makak kita diberikan sebuah suguhan berupa muhasabah diri kepada Tuhan. Sutardji membuat tokoh aku sebagai sosok yang menyesali perbuatan-perbuatannya di masa lampau yang kemudian ia ingin bertaubat agar kembali ke jalan yang benar. Selain penggambaran mengenai penyesalan tokoh, beliau juga menggambarkan bagaimana kasih sayang Tuhan kepada hambanya.

Kita coba lihat pada bait pertama dimana kita disuguhkan dengan perenungan seorang hamba yang memiliki dosa-dosa yang diperbuat. Karenanya dosa-dosa itu akan ditebus dengan cara menunaikan segala perintah Tuhan. Ketika kita memasuki bulan Ramadhan, maka kita akan memanfaatkan segala kesempatannya dalam momen suci yaitu ibadah Puasa di bulan Ramadhan dan ibadah lainnya sejak pagi hingga pagi lagi. Hal ini dapat kita lihat pada bait dibawah ini.

Lihatlah

Pedang tobat ini menebas-nebas hati

Dari masa lampau yang lalai dan sia

Telah kulaksanakan puasa ramadhanku,

Telah kutegakkan sholat malam

Telah kuuntaikan wirid tiap malam dan siang

Telah kuhamparkan sajadah

Yang tak hanya nuju ka’bah

Tapi ikhlas mencapai hati dan darah

Dan di malam-malam Lailatul Qodar akupun menunggu

Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya

            Kita lanjut pada bait kedua dimana kita diberikan sebuah gambaran bentuk kerinduan dari seorang Hamba kepada Tuhannya. Beliau mengungkapkan tokoh aku juga tidak pernah merasa lelah dalam menanti kemustajabahan Tuhan. Tidak hanya itu beliau juga menggambarkan bahwa ia tidak lelah dalam mengharapkan kehadiran sosok Tuhan sehingga tidak pernah melalaikan segala perintahNya.

Maka aku girang-girangkan hatiku

Aku bilang:

Tardji rindu kau wudhukan setiap malam

Belumlah cukup untuk menggerakkan Dia datang

Namun si bandel Tardji ini sekali merindu

Takkan pernah melupa

Takkan kulupa janji-Nya

Bagi yang merindu insya Allah ka nada mustajab cinta

Maka walau tak jumpa denganNya

Shalat dan zikir yang telah membasuh jiwaku ini

Semakin mendekatkan aku padaNya

Dan semakin dekat

Semakin terasa kesia-siaan pada usia lama yang lalai berlupa

Kini kita lihat pada bait ketiga dimana telah disuguhkan oleh penyair tentang kesesalan seorang tokoh aku atas segala perbuatannya dimasa lampau yang kelam dan ia meminta tlong pada Tuhan agar tidak kembali ke masa lampau yang gelap agar ingin mengubah kehidupannya menjadi lebih baik. Hal ini dapat kita lihat pada bait ketiga di bawah ini.

O lihat Tuhan, kini si bekas pemabuk ini

Ngebut

Di jalan lurus

Jangan Kau depakkan lagi aku ke trotoar

Tempat usia lalaiku meneggak arak di warung dunia

Kini biarkan aku menenggak marak cahayaMu

Di ujung sisa usia

O usia lalai yang berkepanjangan

Yang menyebabkan aku kini ngebut di jalan lurus

Tuhan jangan kau depakkan aku lagi ke trotoar

Tempat aku dulu menenggak arak di warung dunia

Bait terakhir yaitu bait keempat ini menggambarkan tentang sosok aku yang telah mencapai puncak atau ujung dari kemenangan dengan arti tokoh aku merasakah kefitrahannya yang sesungguhnya. Pada hari raya, seluruh umat muslim berbahagia dengan meyakinkan dirinya untuk melangkah menjadi lebih baik, melapanbgkan hatinya dengan kekusyukan salat Idul Fitri.

Maka pagi ini

Kukenakan zirah La Illaha IllAllah

Aku pakai sepatu sirathal mustaqim

Aku pun lurus menuju lapangan tempat shalat Id

Aku bawa masjid dalam diriku          

Kuhamparkan di lapangan

Kutegakkan sholat

Dan kurayakan kelahiran kembali disana

 

Jumat, 07 Mei 2021

Tiga Sajak Penuh Makna : Hantu Kolam, Hantu Musim, Hantu Dermaga Karya Mashuri

 

Puisi 1

            Hantu Kolam

: plung!

 

di gigir kolam

serupa serdadu lari dari perang

tampangku membayang rumpang

 

mataku berenang

bersama ikan-ikan, jidatku terperangkap

koral di dasar yang separuh hitam

dan gelap

tak ada kecipak yang bangkitkan getar

dada, menapak jejak luka yang sama

di medan lama

 

segalangnya dingin, serupa musim yang dicerai

matahari

aku terkubur sendiri di bawah timbunan

rembulan

segalanya tertemali sunyi

mungkin…

 

“plung!”

 

aku pernah mendengar suara itu

tapi terlalu purba untuk dikenang sebagai batu

yang jatuh

kerna kini kolam tak beriak

aku hanya melihat wajah sendiri, berserak

Banyuwangi, 2012-12-03

 

Puisi 2

Hantu Musim

aku hanya musim yang dikirim rebah hutan

kenangan – memungut berbuah, dedaunan, juga

unggas – yang pernah mampir di pinggir semi

semarakkan jamuan, yang kelak kita sebut

pertemuan awal, meski kita tahu, tetap mata

itu tak lebih hanya mengenal kembali peta

lama, yang pernah tergurat berjuta masa

 

bila aku hujan, itu adalah warta kepada ular

sawah hasratku, yang tergetar oleh percumbuan

yang kelak kita sebut sebagai cinta, entah yang

pertama atau keseribu, kerna di situ, aku mampu

mengenal kembali siku, lingkar, bulat, penuh

 

di situ, aku panas, sekaligus dingin

sebagaimana unggas yang pernah kita lihat

di telaga, tetapi bayangannya selalu

mengirimkan warna sayu, kelabu

dan kita selalu ingin mengulang-ulangnya

dengan atau tanpa cerita tentang musim

yang terus berganti…

 

Magelang, 2012

Puisi 3

Hantu Dermaga

mimpi, puisi dan dongeng

yang terwarta dari pintumu

memanjang di buritan

kisah itu tak sekedar mantram

dalihmu tuk sekedar bersandar bukan gerak lingkar

ia serupa pendulum

yang dikulum cenayang

dermaga

ia hanya titik imaji

dari hujan yang berhenti

serpu ruh yang terjungkal, aura terpenggal dan kekal

tertambat di terminal awal

 

tapi ritusmu bukan jadwal hari ini

dalam kematian, mungkin kelahiran

kedua

segalanya mengambang

bak hujan yang kembali

merki pantai

telah berpindah dan waktu pergi

menjaring darah kembali

 

Sidoarjo, 2012

            Setelah membaca tiga sajak dari Mashuri yang berjudul Hantu Kolam, Hantu Musim, dan Hantu Dermaga memberikankesan yang atraktif. Tiga puisinya yang menggunakan kata “hantu” pada judulnya membuat pembaca tertarik. Penyampaian pesan dalam puisi juga mudah dimengerti.

          Pada umumnya, kata “hantu” memiliki gambaran sosok yang tak kasat mata yang identic dengan kemistisan sesuatu. Namun Ketika kita membaca puisi Mashuri ini, anggapan awal tentang cerita mistis dan cerita tentang ketidaknyamanan seseorang karena sosok hantu pada puisi ini berbeda.

        Judul dari tiga puisi ini dibuat dengan menggunakan satu kata yang sama yaitu Hantu, sehingga puisi ini memiliki kesinambungan antara satu dan yang lain. Puisi-puisi yang dibuat oleh para penyair memiliki kerisauan, kegelisahan, perasaan yang dalam dari penyair. Puisi Mashuri ini setiap puisinya memiliki kerisuan yang sangat menyedihkan jika pembaca membayangkan apa yang ia baca. Pada puisi  ini penulis menuangkan kisah masa lalu yang dianggap sebagai kenangan buruk dimana kenangan itu terbayang bayang hingga dewasa. Apabila puisi Mashuri di atas dihubungkan dengan keadaan pada masa kini sesungguhnya pada kehidupan kita terkadang diri ini merasa kesepian dan kesendirian.

        Puisi pertama yang akan kita bahasa adalah “Hantu Kolam” dimana pada puisi ini menggambarkan keterpurukan sepinya hidup yang dirasakan oleh seseorang. Pada puisi ini memiliki makna bahwa seorang manusia diumpakan seekor ikan yang hidup di kolam yang gelap dan dalam. Kata “kolam” pada puisi dapat diartikan sebagai dunia yang mana tokoh “aku” pada puisi itu tinggal di dalamnya. Goresan-goresan luka yang “aku” rasakan ini mengakibatkan kesedihan yang mendalam dan dirasakannya secara terus menerus. Harapan seorang “aku” adalah mendapatkan sebuah titik terang yang dapat menariknya keluar dari gelapnya kolam yang sunyi. Namun hal itu sukar terjadi karena justru dia hanya dapa menerima kehidupannya yang penuh luka dan buruh dengan pasrah.

            Puisi berikutnya yakni “Hantu Musim” menggambakan sebuah ingtaan kenangan lain yang dirasakan oleh tokoh “aku”, di dalam puisi ini pembaca memahami bahwa dibalik kenangan-kenangan yang buruk, masih ada kenangan-kenangan yang dirasakan. Beberapa baris puisi inilah kita dapat mengetahui bahwa ada berbagai kejadian manis yang tercipta pada segelintir waktu. Kita dapat lihat pada bait ketiga dan keempat.

bila aku hujan, itu adalah warta kepada ular

sawah hasratku, yang tergetar oleh percumbuan

yang kelak kita sebut sebagai cinta, entah yang

pertama atau keseribu, kerna di situ, aku mampu

mengenal kembali siku, lingkar, bulat, penuh

 

di situ, aku panas, sekaligus dingin

sebagaimana unggas yang pernah kita lihat

di telaga, tetapi bayangannya selalu

mengirimkan warna sayu, kelabu

dan kita selalu ingin mengulang-ulangnya

dengan atau tanpa cerita tentang musim

yang terus berganti…

          Baris puisi tersebut menceritakan pada saat musim hujan terdapat masa-masa Bahagia tentang sebuah percintaan yang skar dilupakan. Ingatan itu membuat seluruh tubuhnya merasa kacau. Kenangan baik atau buruk pasti menimbulkan kegelisahan seseorang. Oleh karenanya hal tersebut dapat menjadikan kita Kembali merasa berada pada masa lalu.

            Puisi ketiga yaitu “Hantu Dermaga” menggambarkan mengenai ingatan-ingatan tentang usaha seseorang terhadap hidupnya pada lingkungan keadaan yang tidak pasti dalam mencapai keberhasilan yang kemudian pada akhirnya menggunakan berbagai cara untuk mengorbankan hidupnya. Kita dapat melihat hal ini pada penggalan puisi di bawah ini.

segalanya mengambang

bak hujan yang kembali

merki pantai

telah berpindah dan waktu pergi

menjaring darah Kembali

            tidak hanya itu, puisi-puisi di atas mengingatkan pada kita bahwa semua hal yang menjadi titik rehat seseorang adalah tipu muslihat yang ada. Pada titik tersebut seseorang menjadi pengingat kejadian di masa lalu. Setelah membaca tiga puisi Mashuri, dapat diuraikan dan disimpulkan bahwa puisi-puisi nya membicarakan tentang kenangan dan masa depan seseorang yang menjadi bayang-bayang. Kenangan yang dirasakan tersebut dapat berupa kenangan baik maupun buruk sehingga hal tersebut dapat menjadi momok atau hantu yang mengganggu. Kejadian yang teringat dengan jelas oleh seseorang secara tidak sadar akan menciptakan suatu kenangan tersendiri. Kenangan buruk akan menimbulkan sisi negatif yang membuat hidup orang tersebut tidak akan pernah maju dan selalu terpuruk dalam kesedihan. Kenangan yang baik justru memberikan nilai positif bagi seseorang untuk menjalani kehidupan.

            Kelebihan pada puisi Mashuri adalah menampilkan runtutan puisi yang memiliki kesinambungan dengan judul yang menarik. Sedangkan kekurangan dari puisi itu adalah ada beberapa penggunaan kata kiasan yang sukar dimengerti oleh pembaca karena kata kiasannya yang masih terlalu asing.

Sabtu, 24 April 2021

Mendalami Cerpen "Sulastri dan Empat Lelaki" Karya M. Shoim Anwar

 

"Sulastri dan Empat Lelaki" Karya M. Shoim Anwar 

            Berbagai macam cara penulis untuk menuangkan seluruh ide kreatifnya mulai dari karya ilmiah hingga karya sastra. Seperti hal nya M. Shoim Anwar yang telah memiliki banyak sekali karya yang luar biasa mulai dari puisi, cerpen dan novel. Karya sastra adalah sebuah karya dengan ide atau gagasan yang terkadang mengacu pada kehidupan yang kemudian dikemas dengan kreatif sehingga menghasilkan sebuah karya sastra. Karya sastra cenderung lebih bebas dari karya ilmiah.

            Cerita Pendek atau biasa disebut dengan cerpen adalah sebuah tulisan karya sastra yang memiliki ide dengan melihat suasana, keadaan yang ada di dunia nyata yang kemudian di kreasikan dan disampaikan menggunakan bahasa yang bebas, kreatif dan menarik tanpa menghilangkan nilai-nilai yang akan disampaikan. Cerita pendek dibuat sesingkat mungkin tidak bebelit agar pembaca tertarik dalam membaca karya tersebut. Bentuk cerita yang disuguhkan pendek namun padat sehingga mempermudah pembaca dalam memahami makna atau nilai-nilai dalam cerrita pendek.

            Kali ini, cerita pendek dengan judul Sulastri dan Empat Lelaki karya M. Shoim Anwar akan menjadi contoh sebagai cerita yang memiliki daya Tarik dan mengandung nilai-nilai yang ada di kehidupan. Cerita Pendek ini mengisahkan nasib seorang wanita bernama Sulastri yang tengah bekerja di negeri orang. Cerita bermula dari Sulastri yang merupakan seorang istri dari lelaki bernama Markam. Mereka hidup Bersama dengan anak-anaknya di daerah Tegal-. Bengawan Solo. Kehidupan mereka awalnya berjalan dengan normal dimana Markam adalah seorang pekerja di Museum Trinil dan Sulastri pengelola kebun tembakau yang hasil tanamnya dapat diserahkan pada pabrik rokok, namun semakin lama Sulastri merasa bahwa ia telah dipermaikan oleh perusahaan rokok tersebut. Keadaan perekonomian keluarga Sulastri semakin tidak terkendali. Suaminya Markam semakin tidak jelas denga napa yang dikerjakannya. Markam mulai bertapa dengan meninggalkan pekerjaannya. Ia bertapa dengan tujuan mendapatkan keris atau tombak yang dapat menyelamatkan keluarganya dari kemiskinan.

Sulastri kian gelisah Ketika melihat pertapaan sang suami tidak juga dapat menjadikan perekonomian keluarga kecilnya membaik dan justru semakin parah. Menghidupi empat orang sangat berat bagi Sulastri saat ini karena perekonomian mereka yang semakin hari semakin miris. Awal Markam bertapa, Sulastri masih dapat berharap akan ada hal baik yang datang namun tetap saja tidak terjadi apapun. Kemurkaan Sulastri setiap hari semakin meluap.  Pertapaan Markam menjadi penghilang kesabaran Sulastri. Sulastri menumpahkan segala amarahnya pada Markam pada saat sang suami baru saja pulang bertapa. Sulastri melemparkan buku yang membuat Markam yakin dengan bertapa akan membawa hal baik pada keluarga. Namun nyatanya tidak, keluarganya kian miskin dan membuat Sulastri murka. “Kau bukan Siddhartha, sang pertapa Gotama dari Kerajaan Sakya yang pergi bertapa dengan meninggalkan kemewahan pada keluarganya. Istri dan anaknya ditinggal dengan harta benda yang berlimpah. Tapi kau malah meninggalkan kemelaratan untuk aku dan anak-anak!”

Kenangan itu menjadi hal yang membuyarkan lamunannya. Sulastri kini berdiri menatap laut merah. Tak lama kemudian Sulastri melihat sosok yang ia takuti muncul sosok tersebut adalah Firaun.Sulastri berlari meminta bantuan kepada polisi namun, polisi tidak ingin menolong sebab di awal, Sulastri telah berperilaku buruk pada sang polisi yakni mengabaikan pertolongannya. Sulastri kemballi berlari mencari pertolongan dengan sekuat tenaganya. Hingga akhirnya ia melihat sosok besar yang ia Yakini adalah Musa. Ia berusaha memintapertolongan terhadap Musa agar bebas dari kejaran Firaun.

Musa yang melihat kejadian tersebut tidak langsung menolong Sulastri, ia membeberkan bahwa Sulastri datang ke negeri ini dengan cara yang salah, Sulastri juga telah berbuat salah dengan ikut suaminya menyembah berhala. Hal-hal yang Sulastri lakukan di masa lampau membuat Musa sulit untuk membantu Sulastri. Setelah menjabarkan kesalahan-kesalahan Sulastri, Musa Kembali menghilang dari hadapan Sulastri. Dikejarlahh Kembali Sulastri oleh Firaun. Sulastri masih berusaha berlari sekuat tenaga.

Saat sedang berlari menghindari kejaran Firaun lagi-lagi sosok Musa datang berupa tongkat. Tongkat tersebut digenggamnya dan dipukulkan kearah Firaun dan kemudian Firaun pecah berkeping keping. Tak lama Sulastri tersadar bahwa dirinya sedang berada di tepi Laut Merah seorang diri dengan hamparan pasir pantai yang memanas karena matahari.

Berdasarkan cerita pendek ini memiliki beberapa aspek yang dibahas oleh penulis dengan ringkas. Aspek paling kentara adalah aspek Religi hal ini tergambarkan pada cerita Markam yang bertapa demi mendapatkan kesejahteraan, bukan beribadah dengan baik kepada Tuhan dan bekerja lebih giat tetapi malah bertapa yang tidak lain sama seperti menyambah berhala atau menyekutukan Tuhan. Markam disini diceritakan seseorang yang bertapa demi mendapatkan keris dan tombak yang diyakini dapat membawa keberuntungan. Namun hal tersebut tidk dapat dibenarkan dari segi agama.

Sulastri dianggap ikut andil dalam pertapaannya dikarenakan Ketika Markam mulai bertapa, Sulastri juga mengharapkan hal serupa dari pertapaan suaminya itu. Hal ini dapat dikatakan bahwa Sulastri sempat mendukung perilaku tidak baik Markam yaitu menyekutukan Tuhan. Namun sulastri berdalih bahwa perbuatannya adalah sikap seorang istri yang taat pada suaminya. Padahal dalam agama, jika ada sesuatu yang dirasa tidak baik sebaiknya diingatkan atau tidak mengikuti perilakunya. Sulastri disini seperti mendukung suaminya berjalan kearah kesesatan, tidak lagi percaya Tuhan dan mulai berpaling dariNya.

Sebenarnya dalam cerita ini penulis telah memberikan sebuah gambaran pertolongan kepada Sulastri yaitu pertolongan seorang polisi. Pertolongan Polisi ini dpat diartikan sebagai pertolongan Tuhan kepada Sulastri, namun Sulastri justru menganggap pertolongan yang datang sebagai ancaman pada dirinya sehingga ia menolak pertolongan tersebut dn memilih bersembunyi. Pertolongan yang dianggap sebagai hal buruk itu hilang dikala Sulastri benar-benar membutuhkan pertolongan. Hal ini digambarkan pada saat sulastri dikejar oleh Firaun, polisi yang tadinya ingin membantunya menjadi enggan dan menghindari Sulastri seperti saat sulastri menghindari polisi.

Tuhan adalah sosok yang akan melindungi HambaNya dimana pun dan kapanpun. Hal ini ditunjukkan dalam cerita dimana Sulastri dipertemukan dengan Sosok Musa yang menyadarkan Sulastri atas perbuatan-perbuatannya dimasa lalu. Mulai dari menyembah berhala, kemalasan hingga jalan yang diambil pada saat pergi ke negeri Arab. Melalui Musa Tuhan juga membebaskan Sulastri dari kejaran Firaun. “Saya ditelantarkan suami, Ya Musa.” Ujar Sulastri. “Suamimu seorang penyembah berhala. Mengapa kau bergantung padanya?” hal inilah yang menjadi penyebab kemungkaran seorang sulastri. Saya seorang perempuan, Ya Musa.” Rengek Sulastri pada Musa “Perempuan atau laki diwajibkan mengubah nasibnya sendiri.” Hal tersebut menggambarkan bahwasanya manusia telah diberikan waktu, diberikan kesempatan untuk mengubah nasibnya dengan cara yang baik dan benar tanpa berpaling dari Tuhan. Hanya saja manusia sendiri yang malas dan suka mencari yang instan.

Cerita ini juga memiliki aspek ekonomi yang mana disinggung dalam cerita keluarga Sulastri yang dipermainkan oleh Pabrik rokok dan berujung pada perekonomian yang kian menipis. Hal ini seperti pada kehidupan nyata dimana rakyat kecil yang notabennya adalah seorang distributor dibodohi oleh orang-orang yang memiliki kuasa atau tingkat lebih tinggi dari mereka. Rakyat-rakyat kecil dibohongi yaitu membeli hasil panen mereka dengan harga yang rendah namun dijual Kembali dengan harga yang menguntungkan satu pihak. Jika di hubungkan dengan perekonomian di Indonesia petani-petani beras berusaha menghasilkan padi yang berkualitas namun dihargai dengan harga yang tidak seimbang dari hasil jerih payahnya. Kemudian orang-orang yang diatas merasaa berkuasa merampas hak milik rakyat dengan cara korupsi dan sebagainya. Hal ini juga disinggung penulis dalam perkataan Musa yakni “Para pemimpin negerimu serakah.” Sehingga rakyat-rakyat kecil yang seharusnya mendapatkan dana subsidi justru semakin sengsara karena pemimpin yang korupsi. “Mereka telah menjarah kekayaan negeri untuk diri sendiri, keluarga, golongan, serta para cukongnya” ungkapan ini juga dapat dihubungkan dimana orag-orang besar membabat hutan demi keinginan mereka tanpa mempedulikan dampak yang akan terjadi. Namun hal ini juga bukan hanya kesalahan para penyokong tetapi juga salah Sulastri yang tetap tidak mau berusaha lebihkeras lagi dalam menghidupi keluarganya. Ia justru malah mengabdi pada suaminya yang jeas tidak dapat menghasilkan apa-apa selain bertapa.

Dengan jalan pikirnya yang instan, akhirnya sulastri pergi ke negeri Arab dengan jalur Ilegal. Hal ini dengan dalih untuk menghidupi anak-anaknya. Namun tetap pada saat ia samapi di negeri Arab pun kesengsaraan tetap menimpa Sulastri. Memang apapun yang ditanam apkan menghasilkan apa yang telah ditanam.

Berbagai jalan dan kesengsaraan dilalui oleh Sulastri ini menunjukkan bahwa manusia diciptakan untuk berani bertanggung jawab atas segala hal yang dilakukannya, mulai dari kebahagiaan yang ia dapat hingga kejayaan mereka sendiri. Kebahagiaan dan kejayaan seseornag tidak bergantung pada orang lain. Karena manusia berhak Bahagia tanpa menderita. Seorang wanita yang telah menikah memang harus tunduk dan taat terhadap suaminya, dengan catatan selama suaminya berbuat kebenaran makan patuhilah, namun jika suami sudah melenceng dari jalannya maka ingatkanlah tapi kalua peringatan itu tidak juga menyadarkan sang suami maka jangan mengikuti apa yang diikutinya. Hal ini dapat dilihat pada saat Markam terus-terusam bertapa, Sulastri tetap taat dan ikut mengunggu hasil bertapa suaminya. Seharusnya disini Sulastri lebih giat mencari nafkah tanpa bergantung pada sang suami dan terus mengingatkan suaminya sebab hal yang dilakukan suaminya adalah hal yang tidak baik.

Cerita pendek ini juga menunjukan bahwasannya manusia memiliki pemikiran untuk melakukan sebuah Tindakan. Seperti hal nya pada saat Sulastri ingin melompat ke Laut Merah, ada sosok polisi yang diangap ancaman oleh sulastri itu sebenarnya adalah sebuah pertolongan untuk Sulastri yang telah ditolak olehnya. Sulastri berpikiran tidak aka nada orang yang mau menolongnya pada waktu itu. Padahal, didepan matanya ada orang yang siap membantunya dengan ikhlas.

Beberapa pemaparan penulis tentang kehidupan Sulastri, digambarkan bahwa Sulastri berpikir bahwa ia selalu bertemu dengan lelaki yang tidak menghargai dirinya. Seperti hal nya suaminya yang tidak bertanggung jawab atas keluarganya. Suaminya membiarkan SUlastri dan anak-anaknya sengsara yang kemudian Sulastri memustuskan pergi ke negeri Arab untuk mendapatkan uang setelah melihat keadaan suaminya yang semakin hari kian mengabdi pada pertapaannya. Cara yang digunakan Sulastri saat pergi ke Negeri Arab dengan cara yang tidak baik atau haram. Hal ini dikatakan oleh Musa saat musa hendak menolongnya. Pada akhirnya Sulastri menyesal atas perbuatannya dan ingin Kembali ke Tanah Air. Sulastri tidak lagi percaya pada siapapun baik poilis, teman atau perantara untuk ke kedutaan. Sulastri tidak mempercayai hal-hal itu karena dia melihat teman-temannya diperlakukan sebagai barang dagangan oleh orang-orang perantara dimana teman temannya harus membayar mahal demi deportasi.

Firaun dalam cerita ini digambarkan sebagai akibat dari perbuatan Sulastri selama ini yang menghantuinya dan mengejarnya kemanapun Sulastri pergi. Firaun ini juga sebagai rasa bersalah Sulastri karena tidak berusaha semaksimal mungkin untuk keluarganya. Elain itu, Firaun disini juga digambarkan sebagai jalan terakhir bagi Sulastri dimana pada saat Sulastri ingin loncat ke Laut Merah, sama halnya seperti Sulastri memilih untuk menyerahkan dirinya pada hal buruk sehingga Firaun disini menganggap bahwa Sulastri bersedia menjadi budak karena Sulastri berniat menjatuhkan dirinya ke Laut Merah. Sedangkan Musa adalah gambaran dari pertolongan Tuhan yang siap membantu kapan un dan dimanapun hambanya berada dan dalam keadaan apapun. Hal ini membuktikan bahwa Tidak ada Tuhan yang rela melihat hambanya kesusahan dn hidup dalam kesengsaraan sehingga Tuhan akan selalu menolong hambanya yang meminta pertolongannya.

Melalui keseluruhan cerita Sulastri dan Empat lelaki karya M Shoim Anwar ini dapat diambil banyak sekali nilai-nilai positif bagi pembaca. Salah satunya adalah peringatan bagi kita sebagai manusia yang harus tetap berusaha sebaik mungkin untuk menjalankan hidup di jalan yang benar. Penulis juga menunjukkan pada pembaca bahwa karma itu ada. Karma ditunjukkan dalam bentuk apapun sehingga dapat menyadarkan manusia untuk terus berbuat baik dan tidak meninggalkan Tuhan.

Cerita pendek atau sebuah karya sastra pastilah memiliki kelebihan dan kekurangan, pada cerita Sulastri dan Empat Lelaki ini memiliki kelebihan dalam segi gaya bahasanya dimana kita seperti diajak menonton cuplikan hidup seseorang dengan memberikan sentuhan-sentuhan bahasa yang indah dan kreatif sehingga pembaca dengan nyaman membaca karya sastra ini. Selain itu, penulis menambahkan berbagai warna cerita di dalamnya sehingga seakan akan pembaca berada dalam cerita tersebut. Kelebih lainnya adalah dalam cerita ini, M. Shoim Anwar menyuguhkan banyak pesan moral yang dapat diambil dan dijadikan pelajaran bagi pembaca salah satunya adalah larangan menyekutukan Tuhan.

Kekurangan yang ada pada cerita pendek ini adalah ada beberapa penggunaan kata yang salah dalam penulisannya sehingga sedikit mengganggu pada saat pembaca menikmati cerita pendek Sulastri dan Empat Lelaki. Selain itu ada hal yang tidak dijelaskan secara detail yakni cara Sulastri pergi ke negeri Arab, mengapa dianggap menggunakan cara yang salah, sehingga membuat pertanyaan lagi bagi pembaca.

 

Dialetika Dalam Lima Cerpen Karya Shoim Anwar Sebagai Kritik Pemerintah di Masa Kini

       Mungkin akhir-akhir ini kita sering melihat berita-berita yang menyiarkan kabar mengenai kritik tajam terhadap pemerintah. Salah satu...